CNEWS, MEDAN, 8 Oktober 2026 -Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Medan Raya senilai Rp 3,5 Triliun terus dikebut. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Cikataru) Kota Medan telah melakukan pembebasan lahan seluas 9 hektar di samping TPA Terjun, Kecamatan Medan Marelan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, *Gunawan Siahaan ST membenarkan pembebasan lahan dilakukan oleh Dinas Cikataru sebagai OPD teknis pertanahan, sementara DLH fokus pada kesiapan operasional dan pasokan sampah.
"Betul, pembebasan lahan 4,98 hektar awal yang kemudian diperluas menjadi 9 hektar itu kewenangannya di Dinas Cikataru Kota Medan. Mereka yang eksekusi ganti rugi dan pengukuran. DLH tugasnya menyiapkan pematangan lahan Rp 47 miliar dan perbaikan akses jalan Rp 7,9 miliar, serta memastikan pasokan sampah 1.700 ton per hari," ujar Gunawan Siahaan di Kantor DLH Medan, Rabu (8/10/2026).
Gunawan menjelaskan, sinergi dua dinas ini sesuai tugas masing-masing. Cikataru bebaskan lahan, DLH kelola sampah dan operasikan TPA Terjun.
"Lahan 9 hektar di Marelan itu sudah clear oleh Cikataru. Sekarang kita di DLH siapkan 26 unit truk sampah baru, pemeliharaan jembatan timbang untuk timbang akurat sampah yang masuk, dan koordinasi dengan Deliserdang yang akan pasok 800 ton per hari," jelasnya.
Ia menyebut gunung sampah TPA Terjun saat ini sudah 30-50 meter tinggi, kondisi memprihatinkan sejak tinjauan Wakil Wali Kota Februari 2026. Dengan PSEL berkapasitas 35-40 MW, sampah 1.700 ton/hari akan diolah jadi listrik untuk 110 ribu rumah tangga.
"Jembatan timbang kita kalibrasi rutin, semua truk wajib timbang. Ini untuk transparansi tipping fee ke investor PSEL. Investor dari China seperti Everbright, Grandblue, Sanfeng, plus SUEZ Belanda sudah ikut seleksi Danantara. Pemenang untuk Medan Raya Nusantara Energi Hijau Consortium (BGE Sentosa Utama). Groundbreaking target Desember 2026, operasi Desember 2028," ungkap Gunawan.
Ketua DPD Jaringan Informasi Nasional Sumatera Utara (JIN-SU) mengapresiasi kolaborasi Dinas Cikataru dan DLH Medan dalam percepatan PSEL.
"Kami apresiasi Dinas Cikataru yang sudah bergerak cepat bebaskan lahan 9 hektar, dan Kabid Gunawan Siahaan di DLH yang pastikan kesiapan operasional. Ini contoh kolaborasi OPD yang baik di bawah Wali Kota Rico Waas.
PSEL Rp 3,5 triliun ini terobosan, Medan akan jadi kota pertama di Sumatera yang punya pabrik listrik dari sampah," ujar Ketua DPD JIN Sumut.
Menurutnya, pembagian tugas yang jelas antara Cikataru (bebaskan lahan) dan DLH (kelola sampah) akan mencegah tumpang tindih dan memudahkan pengawasan.
"Kita minta transparansi, berapa nilai ganti rugi lahan 9 hektar oleh Cikataru, siapa pemilik lahan, dan bagaimana pematangan Rp 47 miliar oleh DLH. Jembatan timbang juga harus akurat karena ini alat hitung uang Rp 7,4 triliun tipping fee selama 30 tahun ke investor termasuk investor China. JIN Sumut akan kawal dan sosialisasikan manfaat PSEL ke warga Marelan," katanya.
Ketua DPD JIN Sumut juga menilai masuknya investor China dengan teknologi Waste to Energy (WtE) 850-1000°C adalah hal positif asalkan transfer teknologi dan serap tenaga lokal.
"Investor China dengan kapasitas 99 ribu ton per hari seperti Grandblue itu sudah terbukti di negaranya. Asalkan mereka buka lapangan kerja untuk warga Medan Marelan dan pemulung TPA yang sudah dapat BPJS dari Pak Wali Kota, kita dukung penuh," pungkasnya.
Wali Kota Medan Rico Waas sebelumnya menegaskan, "Pemko Medan siap. Pematangan lahan dalam waktu dekat akan ditenderkan dan kami berharap groundbreaking dapat berjalan sesuai waktu yang ditetapkan."
PSEL Medan Raya masuk 10 kota prioritas Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan investasi USD 200 juta dan dukungan Pemprov Sumut sebagai mediator Medan-Deliserdang. ( Anto Juntak)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar