-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan HUT Kemerdekaan RI

Iklan HUT Kemerdekaan

Banjir Berulang di Jayapura, LSM WGAB Desak BWS Papua Segera Keruk Sungai Jembatan STM Kotaraja: Jangan Tunggu Warga Terus Jadi Korban!

Sabtu, 10 Oktober 2026 | Sabtu, Oktober 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-10T11:36:43Z


CNEWS, JAYAPURA,  — Banjir yang berulang kali melanda sejumlah kawasan di Kota Jayapura di tengah curah hujan tinggi memunculkan desakan agar Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua segera melakukan normalisasi sungai, khususnya di kawasan Jembatan STM Kotaraja. Pendangkalan yang diduga akibat timbunan pasir dinilai perlu segera ditangani agar kapasitas aliran sungai tidak semakin berkurang dan risiko luapan air dapat ditekan.


Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WGAB Papua, Yerry Basri Mak, S.H., M.H., kepada media CNEWS mendesak BWS Papua agar tidak menunda langkah teknis yang diperlukan untuk mengantisipasi banjir, terutama ketika curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi.



Menurut Yerry, dalam dua bulan terakhir, Kota Jayapura berulang kali dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Sejumlah aliran sungai dilaporkan meluap hingga air merambat ke jalan dan kawasan permukiman warga, termasuk rumah-rumah yang berada di sekitar bantaran sungai.



“BWS Papua harus segera turun ke lapangan untuk mengevaluasi kondisi sungai di kawasan Jembatan STM Kotaraja. Jika benar terjadi pendangkalan akibat timbunan pasir, normalisasi atau pengerukan perlu segera dilakukan sesuai hasil kajian teknis,” tegas Yerry.



Pendangkalan Sungai Harus Ditangani, Keselamatan Warga Jangan Diabaikan


Yerry menilai, sedimentasi atau penumpukan material pasir di dasar sungai dapat mengurangi kapasitas tampung aliran air. Ketika hujan berintensitas tinggi terjadi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko luapan, terutama apabila penampang sungai tidak lagi mampu mengalirkan debit air secara memadai.



Karena itu, ia meminta BWS Papua segera melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan tingkat pendangkalan, kondisi penampang sungai, kelancaran aliran, serta faktor lain yang dapat memperparah banjir di kawasan tersebut.


Menurutnya, pengerukan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan perkiraan. Penanganan harus didasarkan pada kajian teknis, kondisi hidrologi, dan kebutuhan nyata di lapangan agar upaya normalisasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.



“Jangan sampai persoalan ini hanya menjadi perhatian ketika banjir sudah terjadi. Warga membutuhkan langkah pencegahan yang nyata. Jika sedimentasi terbukti menghambat aliran sungai, segera susun dan laksanakan penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku,” ujar Yerry.


BWS Papua Diminta Bergerak Cepat dan Terbuka kepada Publik


LSM WGAB Papua meminta BWS Papua segera meninjau Sungai Jembatan STM Kotaraja, mengukur tingkat sedimentasi, dan menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika normalisasi dinilai diperlukan, masyarakat berharap pengerukan dapat segera dilaksanakan dengan memperhatikan keselamatan lingkungan dan tidak memindahkan risiko banjir ke kawasan lain.


Selain pengerukan, evaluasi juga perlu mencakup kondisi drainase, penyempitan alur sungai, hambatan aliran, serta kemungkinan faktor lain yang turut menyebabkan air meluap ke permukiman.


Yerry juga mendorong koordinasi antara BWS Papua, Pemerintah Kota Jayapura, instansi kebencanaan, dan pihak terkait untuk memperkuat sistem mitigasi banjir, termasuk pemantauan titik rawan serta penyampaian peringatan dini kepada masyarakat.


Jangan Menunggu Dampak Lebih Besar


Desakan WGAB Papua menjadi pengingat bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan respons darurat setelah air menggenangi jalan dan rumah warga. Pemeriksaan infrastruktur sungai, pemeliharaan alur air, dan mitigasi berbasis risiko perlu menjadi bagian dari langkah pencegahan yang berkelanjutan.


Kini, perhatian publik tertuju pada tindak lanjut BWS Papua terhadap kondisi sungai di Jembatan STM Kotaraja. Langkah konkret dan informasi terbuka mengenai hasil pemeriksaan lapangan akan membantu masyarakat mengetahui apakah pendangkalan benar menjadi salah satu faktor penyebab luapan dan bagaimana penanganannya akan dilakukan.


CNEWS menegaskan pentingnya keselamatan warga sebagai prioritas. Desakan normalisasi ini perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan teknis dan koordinasi lintas instansi, sehingga penanganan banjir di Kota Jayapura tidak berhenti pada imbauan, tetapi menghasilkan upaya pencegahan yang terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Catatan redaksi: Pernyataan mengenai pendangkalan dan penyebab banjir dalam berita ini merupakan keterangan narasumber yang masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan. Konfirmasi resmi dari BWS Papua mengenai kondisi sungai, hasil evaluasi, dan rencana normalisasi perlu dimuat untuk melengkapi pemberitaan. (YBM)

CNEWS — Menggali Informasi Bersama Rakyat, 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update