-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

ESPORTS JADI SENJATA PREVENTIF POLRI: KAPOLRI DORONG PEMBINAAN PEMUDA DARI POLSEK HINGGA NASIONAL

Selasa, 11 Agustus 2026 | Selasa, Agustus 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-11T12:06:58Z


Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Pol. Adex Yudiswan Perkuat Jembatan Esports, Literasi Digital, Keamanan Siber dan Kamtibmas


CNEWS | JAKARTA — Perubahan karakter generasi muda di tengah percepatan teknologi digital menuntut pendekatan baru dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh bersama internet, gim, media sosial, kecerdasan buatan hingga ekonomi kreator. Kondisi tersebut membuat pembinaan pemuda tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan larangan dan penindakan.


Dalam perspektif Ir. R. Haidar Alwi, MT, Pendiri Haidar Alwi Care–Haidar Alwi Institute dan Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, ruang digital dan esports justru dapat diarahkan menjadi instrumen pembinaan, prestasi, kreativitas serta pencegahan sosial.


Arahan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. untuk memperluas kompetisi esports hingga tingkat Polsek, Polres dan Polda, menurut Haidar Alwi, memiliki makna lebih besar daripada sekadar penyelenggaraan turnamen.


“Yang dibangun bukan sekadar kompetisi, tetapi ekosistem pembinaan generasi muda,” demikian gagasan utama yang disampaikan Haidar Alwi.


Dari Gim ke Kompetensi dan Prestasi


Esports kini tidak hanya berkaitan dengan pemain. Di dalam ekosistemnya terdapat pelatih, analis, caster, streamer, kreator konten, penyelenggara kompetisi hingga profesi teknologi digital lainnya.


Karena itu, kompetisi yang dikelola secara terarah dapat menjadi jalur hobi → kompetensi → prestasi → profesi → industri.


Haidar Alwi menilai pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan Indonesia menghadapi bonus demografi dan target pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045.


Menurutnya, energi anak muda harus diberikan kanal positif yang menarik dan produktif. Esports, olahraga, kreativitas digital, teknologi dan komunitas dapat menjadi alternatif konstruktif bagi aktivitas negatif di kalangan pemuda.


Prinsipnya sederhana: pencegahan tidak cukup hanya dengan mengatakan “jangan”, tetapi harus menghadirkan pilihan yang lebih baik.


Adex Yudiswan dan Dimensi Keamanan Siber


Dimensi strategis semakin kuat dengan keterlibatan Brigjen Pol. Adex Yudiswan, Dirtipidsiber Bareskrim Polri yang juga disebut sebagai Ketua Pelaksana E-Sport Kapolri Cup 2026.


Keterkaitan antara esports dan keamanan siber menjadi penting karena generasi muda bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari masyarakat yang beraktivitas intensif di ruang digital.


Literasi mengenai keamanan data, etika digital, cyberbullying, penyalahgunaan teknologi dan berbagai ancaman siber menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan generasi digital.


Dalam konteks tersebut, pendekatan preventif Polri dapat diperluas. Polisi tidak hanya hadir ketika kejahatan telah terjadi, tetapi juga membangun komunikasi dan kedekatan dengan komunitas sebelum potensi gangguan berkembang menjadi persoalan hukum atau Kamtibmas.


Polsek sebagai Ruang Pembinaan, Bukan Sekadar Penegakan Hukum


Jika arahan kompetisi esports sampai ke tingkat kewilayahan direalisasikan secara konsisten, Polsek dan Polres berpotensi menjadi salah satu titik temu antara kepolisian dan komunitas anak muda.


Kegiatannya tidak harus selalu berbentuk event besar. Kompetisi sederhana dan rutin, diskusi literasi digital, olahraga, kreativitas konten maupun kegiatan komunitas dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.


Dari interaksi rutin tersebut, polisi dapat lebih mengenal karakter masyarakat dan komunitas pemuda. Sebaliknya, generasi muda dapat mengenal polisi tidak semata-mata dalam konteks penindakan.


Inilah yang disebut Haidar Alwi sebagai pembentukan modal sosial Kamtibmas.


Hubungan yang terbangun melalui interaksi positif dapat membuka ruang komunikasi ketika muncul persoalan sosial, termasuk ketika terjadi perbedaan pendapat atau demonstrasi.


Hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tetap merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis. Namun, komunikasi dan hubungan sosial yang telah dibangun sebelumnya dapat menjadi modal penting dalam mengelola perbedaan secara persuasif dan proporsional.


Dari Event Menjadi Ekosistem


Menurut Haidar Alwi, ukuran keberhasilan program semacam ini tidak semata-mata dapat dilihat dari jumlah hadiah atau besarnya acara.


Satu turnamen mungkin menghasilkan pemenang. Tetapi kegiatan yang dilakukan secara konsisten dapat melahirkan komunitas. Komunitas yang sehat dapat menemukan talenta. Talenta dapat berkembang menjadi profesional. Sementara hubungan komunitas dengan kepolisian dapat memperkuat kepercayaan sosial.


Dengan demikian, esports berpotensi bergerak dari sekadar event menjadi ekosistem.


Model pembinaan berjenjang juga dapat menciptakan jalur talenta dari daerah menuju tingkat yang lebih tinggi: Polsek → Polres → Polda → nasional.


Jika dikelola transparan, inklusif dan profesional, pola tersebut dapat memberikan kesempatan kepada talenta daerah untuk berkembang sekaligus memperkuat keterhubungan sosial antara kepolisian dan generasi muda.


Presisi dalam Perspektif Generasi Digital


Pendekatan tersebut, menurut Haidar Alwi, sejalan dengan semangat Presisi yang menekankan kemampuan kepolisian membaca perubahan, melakukan pencegahan, merespons persoalan dan membangun orientasi pelayanan kepada masyarakat.


Generasi muda Indonesia membutuhkan ruang untuk berkumpul, berkompetisi, berkarya dan mengembangkan kemampuan.


Karena itu, esports dapat ditempatkan sebagai salah satu instrumen pembinaan—bukan sebagai tujuan akhir.


Tujuan akhirnya adalah manusia.


Manusia muda yang mampu menggunakan teknologi secara produktif, menjaga etika digital, bekerja sama, mengendalikan diri, berprestasi dan memiliki tanggung jawab sosial.


Indonesia Emas 2045 Membutuhkan Generasi yang Tangguh


Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menggunakan teknologi. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menciptakan nilai dari teknologi.


Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi digital dan perubahan lanskap pekerjaan global, pembinaan talenta sejak dini menjadi investasi strategis.


Dalam kerangka itu, gagasan memperluas esports ke tingkat kewilayahan dapat menjadi salah satu pendekatan alternatif dalam membangun koneksi antara pemuda, teknologi, komunitas dan keamanan sosial.


Pada akhirnya, yang dibangun bukan sekadar esports.


Dari Polsek hingga panggung nasional, ruang kompetisi dapat menjadi ruang pembinaan; ruang pembinaan menjadi ruang perjumpaan; dan ruang perjumpaan dapat menjadi fondasi kepercayaan antara Polri dan masyarakat.


Jika dikelola secara konsisten, transparan dan berorientasi pada pembinaan, energi generasi muda tidak hanya menjadi kekuatan prestasi olahraga elektronik, tetapi juga dapat diarahkan menjadi modal sosial, ekonomi kreatif dan kekuatan manusia Indonesia menuju 2045. ( Red).

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update