Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan Paskah

Iklan Paskah

“Momentum Kartini 2026: Wapres Gibran Rakabuming Raka Tekan Kolaborasi Nasional, Pemberdayaan Perempuan Tak Boleh Sekadar Seremonial”

Jumat, 17 April 2026 | Jumat, April 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-16T17:14:16Z


CNEWS, JAKARTA – Menyambut peringatan Hari Kartini 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melontarkan pesan tegas: pemberdayaan perempuan tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolik, melainkan harus diwujudkan melalui kolaborasi konkret lintas sektor yang berdampak nyata dan berkelanjutan.


Pernyataan itu disampaikan saat menerima audiensi organisasi Perempuan Indonesia Maju (PIM) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (16/04/2026), dalam agenda yang sekaligus memperlihatkan arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat peran perempuan sebagai pilar pembangunan nasional.


Kolaborasi atau Stagnasi


Dalam pertemuan tersebut, Wapres menekankan bahwa tanpa sinergi yang terstruktur antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta, program pemberdayaan perempuan berpotensi stagnan dan tidak menjangkau akar persoalan.


Ia secara khusus menyoroti pentingnya integrasi program di sektor strategis seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan—tiga bidang yang selama ini masih menunjukkan kesenjangan gender di berbagai wilayah Indonesia.


Pesan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap pendekatan lama yang cenderung parsial dan tidak berkelanjutan.


PIM Siapkan Gerakan Nasional Perempuan


Ketua Umum PIM, Lana T. Koentjoro, menyambut dorongan tersebut dengan menegaskan kesiapan organisasinya untuk memperluas gerakan perempuan berbasis kolaborasi nasional hingga internasional.


PIM bahkan telah menyiapkan agenda besar berupa Forum Nasional Perempuan bertajuk “Peran Perempuan Menjaga Ketahanan Bangsa” yang akan digelar pada 6–7 Mei 2026 di Jakarta, bersamaan dengan rapat kerja nasional.


Forum ini diproyeksikan bukan sekadar forum diskusi, melainkan platform konsolidasi kekuatan perempuan Indonesia dalam menghadapi tantangan multidimensi—mulai dari ketahanan ekonomi keluarga hingga isu sosial dan lingkungan.


Kartini Jangan Sekadar Simbol


Dalam momentum Hari Kartini, PIM juga menyiapkan sejumlah kegiatan publik seperti fun walk kebaya bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan berbagai organisasi perempuan lainnya.


Namun di balik kegiatan tersebut, muncul pesan yang lebih dalam: Indonesia membutuhkan lebih banyak “Kartini baru” yang tidak hanya tampil dalam seremoni budaya, tetapi hadir sebagai aktor perubahan di ruang publik, ekonomi, dan kebijakan.


Ujian Nyata Pemerintah


Dorongan Wapres ini sekaligus menjadi ujian bagi pemerintah pusat dan daerah. Selama ini, berbagai program pemberdayaan perempuan kerap terkendala oleh lemahnya koordinasi, tumpang tindih anggaran, hingga minimnya pengawasan implementasi di lapangan.


Jika kolaborasi yang didorong benar-benar dijalankan secara serius, maka momentum Kartini 2026 bisa menjadi titik balik transformasi peran perempuan dalam pembangunan nasional.


Sebaliknya, tanpa langkah konkret, peringatan ini berisiko kembali menjadi rutinitas tahunan tanpa dampak signifikan.


Kesimpulan


Pernyataan Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar seremoni politik, tetapi sinyal bahwa pemerintah mulai menuntut hasil nyata dari agenda pemberdayaan perempuan.


Kini, sorotan publik tertuju pada implementasi: apakah kolaborasi yang digaungkan akan benar-benar menjangkau perempuan di akar rumput—atau hanya berhenti sebagai jargon di tingkat elite.


Kartini hari ini tidak lagi cukup dikenang. Ia harus dilahirkan kembali—dalam kebijakan, dalam ekonomi, dan dalam keberanian perempuan Indonesia mengambil peran strategis di masa depan. ( Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update