CNEWS, Teheran– Gelombang duka dan kemarahan mewarnai hari kedua prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Puluhan ribu warga memadati jalan-jalan utama di Teheran sambil melontarkan tuntutan keras agar Amerika Serikat dimintai pertanggungjawaban atas kematian pemimpin spiritual dan politik Republik Islam Iran tersebut.
Rekaman udara yang ditayangkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan lautan manusia mengiringi peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei dan empat anggota keluarganya. Peti jenazah diangkut menggunakan truk besar yang melintasi pusat ibu kota, sementara petugas menggunakan semprotan air untuk mendinginkan para pelayat di tengah padatnya kerumunan.
Suasana berkabung berubah menjadi demonstrasi anti-Amerika dan anti-Barat. Saat iring-iringan melintasi sebuah jembatan, sejumlah peserta melempari papan reklame bergambar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menampilkan sasaran peluru mengarah ke kepalanya.
Tulisan di papan tersebut berbunyi, "AS membunuh ayah kami. Kami tidak akan membiarkan kalian lolos."
Tidak hanya itu, sejumlah pengunjuk rasa membakar bendera Amerika Serikat dan Inggris. Beberapa perempuan yang mengenakan cadar hitam mengangkat poster bertuliskan "KILL TRUMP", sementara peserta lain membawa gambar Donald Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang digambarkan berada dalam bidikan senjata dengan tulisan "There Will Be Blood" atau "Darah Akan Tertumpah".
Seruan pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Khamenei menggema di seluruh lokasi prosesi. Massa juga mengibarkan bendera Iran dan spanduk merah yang menyerukan lahirnya "para pembalas dendam Khamenei", sebuah simbol yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam Syiah dan merujuk pada semangat membalas kematian cucu Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Karbala pada abad ketujuh.
Berpotensi Memperburuk Ketegangan Global
Pengamat internasional menilai, kemunculan seruan terbuka untuk melakukan pembalasan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat memicu eskalasi baru yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pemerintah Iran sendiri masih melanjutkan rangkaian upacara penghormatan terakhir. Setelah prosesi di Teheran, jenazah Ayatollah Ali Khamenei dijadwalkan dibawa ke Kota Qom, pusat pendidikan Islam Syiah di Iran, serta ke sejumlah kota suci di Irak.
Selanjutnya, jenazah akan dikembalikan ke Iran untuk dimakamkan secara resmi di kompleks makam bersejarah di Kota Mashhad pada 9 Juli mendatang.
Dunia Menanti Sikap Resmi Iran
Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu pernyataan resmi Pemerintah Iran mengenai arah kebijakan politik dan keamanan pasca-wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah suasana duka nasional, tuntutan pembalasan dari sebagian masyarakat Iran menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan hubungan internasional dalam waktu dekat. ( Am/Red).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar